Rabu, 28 Oktober 2009

tanpa musik tanpa gitar sudah makan pula :)


Sebenarnya sudah lama saya tidak lagi mengalokasikan waktu untuk menulis dan membaca. Membayangkan dua kegiatan tersebut bersama menonton film sebagai kemewahan yang sangat.

Yah semenjak hari itu yang tidak bisa terlupa dan selalu membuat terjaga bersama dentang jam kamar. Menakutkan membayangkan kata mengalir deras, berdominasi bersama perasaan tak karuan. Dan lelah sendiri, ketika tersadar bahwa saya telah terperangkap.Seperti biasa dan berkelanjutan, bulu kuduk menegang hawa dingin berseliweran.

Tapi tetap..selalu kepada semua orang, saya nyatakan dengan “malu” bahwa saya penulis.

Mau apalagi? Hidup sehari-hari juga terbayar dengan menata katakata. Makan, minum, rokok, laki-laki, makeup, anak.

Belakangan, setelah situs-situs pertemanan mengeluarkan hipnotisnya. Saya keranjingan menulis status-status tidak jelas. Kata-kata pendek yang cukup memiliki sihir untuk membuat yang lain berkomentar. Tapi lewat 50 komen berbalas saya capai menanggapi getaran ponsel.

Namun, hari ini di tengah kemacetan Jakarta dan penatnya ruangan ber AC. Tiba-tiba saya ingin memencet keyboard dengan cepat. Membuka-buka kenangan yang ada dalam berbagai situs. Tentu saja password dan usernamenya telah terlupakan.

Mengingat bagaimana saya memprovokasi diaz membuat blog (www.morninghunter.co.cc). Saat itu dia sedang mengajukan surat pengunduran diri dari tempat kerja kami yang lawas. Dan blog tersebut masih eksis

Persahabatan lain juga terbangun dengan seorang kawan, dian ara. Saya memaksanya untuk membuat blog, agar dapat memantau serta belajar menulis dari “sang master”. Blog Dian sudah mati dan sekarang berganti menjadi www.cerebrumdianara.blogspot.com.
Dan banyak lagi blog-blog yang terbidani kemudian berubah menjadi kenangan manis.

Saya dan teman-teman sempat membuat sebuah blog yang lucu. Namun setelah beberapa kali publish hilang begitu saja (www.our-smalltalk.blogspot.com).Cerita-cerita kehidupan memang berseliweran maju dan pergi. Kami sering tetap ada di sini terkadang suka berbagi dengan tekhnologi.


Mobil-mobil dan gedung tempat saya duduk sekarang, sebentar-bentar menabrak jantung. Satu jalur mengisi jalur yang lain dan bunyi klakson tidak beraturan.
Begitu banyak norma dan aturan, pedoman dan sangkaan, tentang baik tentang benar, tentang saya, tentang kita. Isi kepala bersahutan menunggu doktrin, perintah, panggilan dan juga lelap.

Saya bosan jika menamainya rindu di saat-saat seperti ini. Namun apa boleh buat, air mata saya sekelabatan ingin keluar. Saya menahannya dengan kuat dan menuangkannya disini.

Polusi cahaya di Jakarta telah menghapuskan bintang. Hiburan terhebat malam adalah perlawanan manusia terhadap alam. Lampu-lampu terang yang memusnahkan berbagai spesies jalang. Kini tiba saatnya hantu dan kuntilanak berevolusi menjadi gempa dan tsunami.

Tapi saya tahu. Bunyi kertas rokok terbakar bersama alunan keyboard ini akan menyampaikan pada kalian.

Tentang keberadaan saya (tanpa GPS tentunya) dan kerinduan menghantam gelap dengan gelak tawa kalian.

Selamat malam menjelang pagi semuanya. tanpa musik tanpa gitar dan sudah makan :)

Kamis, 15 Oktober 2009

angin


angin,angin sedang apa dia di sana?
bermain dengan fajar atau membelai lembut ranjang wanita?

lentik jemarinya memang bukan untukku..
segala darinya terlarang bagiku....
tapi..
bolehkah angin
hanya satu hari saja, kau ubah arah
aku rindu aroma tubuhnya

Selasa, 29 September 2009

semerbak, helai dan tanya


Bunga-bunga itu tumbuhnya dimana?
Tanya mereka kepada ku saat embun pagi hari tak ada tempat berteduh.
Rumput liar berwarna hijau saja, menghiasi lapangan tempat anak kecil berjalan-jalan.

Aku juga akan bertanya tempat tumbuhnya bunga. Yang sesukanya berubah menjadi rasa dan layu seketika. Menurut ritme musim. Membingungkan apalagi jika dibandingkan dengan proses pembibitan dan kesengajaan penanaman.

Seperti pagi kemarin waktu dia membeli bibit Lavender di sebuah Supermarket bermerk luar negeri. Mall terkenal Jakarta pula. Seluruh petunjuknya berbahasa Asing. Seperti memang tempatnya dari belahan lain dunia. Peradaban jemari lentik dengan budaya berkebun yang mulai tertinggal.

Matanya naik turun kepalanya lepas landas mengartikan satu demi satu petunjuknya. Aku ikut antusias menatapnya, mebawakan keranjang bawaan. Dan artinya sesuatu yang dikerjakan akan bermula.

Mencari pot tanaman baru, memberikan pupuk! Berdekapan, bergandengan tangan, berbaringan dan kemudian mengatakan semu-nya Cinta.

Aku mau! Pikirku

Aku mau! Pikirku.

Dari mau itu yang tidak akan berhenti lagi.
Rasanya sudah terlupakan bahwa dulu pernah ada kata Aku Mau!

Aku mau pada satu kekasih beralih yang lain. Aku mau berdedikasi dari manisnya ciuman menjadi pahitnya ikatan. Ketika harapan-harapan bertarung menjadi obsesi. Aku Mau.

Bentuk-bentuk geometri berlarian menangkap kilatan mimpi bersahutan hinggap. Kalau tentang sedih cukup trapesium yang menangkap. Jika tentang perih biarkan melingkar. Nanti saja, baru dihitung bersama berdasarkan perbandingan tinggi dan perkalian lebar.

Jadi bunga-bunga itu tumbuhnya dimana?
Tanya mereka lagi. Bersamaan dengan bunyi berisik truk pengangkut sampah.

Kunaikan dua pundakku bersamaan, aku tak tahu dan tak mengerti. Hilangnya bunga yang pernah ada di sini.
Termakan lautan pencakar langit, mungkin.
Matahari terhalang tak sanggup memfasilitasi proses fotosintesa, bisa saja.

Kugandeng saja sekenanya jemari anak kecil. Menerangkan sebisanya kejadian alam. Bergemuruh dengan proses kimiawi otak mencakup perasaan dan otak.




Di pekarangan rumahnya sekarang sudah berwarna ungu. Bergerombol menusuk nusuk tanpa duri kecil. Tanpak cantik jika senja menjelang. Dan harum waktu malam datang.

Semerbaknya hari itu bukan lagi harum yang bisa tercium. Malam juga buru-buru menghela perangkap kata-kata manis tuannya.

”Untuk kamu sayang, selalu aku di sini”

Terlepas pula helai kainku malam itu….


(photo by: agoessam @kaliandra Jawatimur)

Rabu, 29 Juli 2009

dengan erat

Hanya embun

Hari kemarin sudah tidak lagi terhitung dengan benar. Jari-jari tidak cukup memuatnya. Tapi aku tahu, aku sedang berenang ke tepian. Mencari lintang-lintang yang pernah kau temukan.
Kemudian mendekapnya dengan erat.

Yah capai kadang-kadang,
Peluh bercucuran tertutup dengan berita-berita tak penting.
Jakarta kembali di guncang bom.

Tapi aku hanya sibuk dengan keping DVD lawas
Ingin mendengarmu
Ingin mencacimu
Ingin ….Melihatmu membuang sampah masa lalu
Dan
Kemudian mendatangi pinggir ranjang
Berdoa bersama

Bagaimana? kabar pernikahanmu?
sudah sampai mana?
apakah aku harus datan dan pura-pura tersenyum
eghhh

Hanya embun
Aku rindu…..

(berikan kekuatan jemariku memecet tombol kotak ajaib untuk bilang HALO)

Senin, 06 Juli 2009

Besok


”Yah besok ya nak!” jawabnya pada gadisnya.

”Besok saat hari-hari berguguran dari kalender kertas yang terpasang pada tembok Ibu,”

Besok kala, angka-angka rupiah sudah tak berarti.
Besok jika beton-beton dapat memayungi kita dari badai.
Besok, waktu kereta bermesin bisa mengantarmu sekolah.
Besok
Besok
”Besok ya nak, besok!”

Jangan pandangi hujan, jangan pandangi awan, jangan pandangi kabut.
Lihat saja jalan..jalan panjang yang kita perjuangkan Nak!
Peluh, keringat, usap saja cepat-cepat
Jangan titikan apapun

Agar besok…
Besok
”Yah Besok ya nak, besok!”
Ibu bisa mengajarimu mewarnai dengan cat air dan krayon ….

Selasa, 16 Juni 2009

taman


Peri-peri menari liar mencari taman
Hei…. dimanakah kau kembang
Kucari duri kecil mungil
Bebat semuanya dengan sari putik
Berhambur pelan tengah ilalang

Peri-peri liar mencari taman
Hei…dimana kau Rama
Kucari dusta
Bebat dengan nista
Berhambur kutemu Rahwana

Peri-peri liar datang di taman..
Hei….dimana kau?
Kucari-cari!
Bebat semua!
Berhambur !
hambur...

Tangisnya menitik..

(haru, kupastikan warnanya hanya merah dan hitam..sedikit khawatir dengan engahan nafas lenguh kepuasan, aneh)

-------------------------------------------------------------------------------------
Dan disana pertama kali bintang itu bersinar. Tampak redup memang, namun berjalan begitu kencang. Berkutat dalam rumusan-rumusan imaji tak jelas. Hari ini dia berkata,
”Sore itu benar indahnya!”
Ku lihat lewat bawah tangga tiada lain hanya asap-asap buangan sampah terbakar. Bunyi-bunyian kaki yang melewati seng ”duk..duk..duk” bisa membuatnya tiba diam.
Ssssttttt, ujarnya.
Aku diam, tak berdegup, diam….merasakan tetes keringat meluncur manis dari jidat.

Ahh manis…
Kupuja kau pula dalam sunyi. Melewati jutaan nyanyi kenari. Dan kau datang lagi.

Dan dia tertawa terbahak..hak..hak…hak..
”Bukan apa-apa, ritme tergesa mereka menggelitik nyaliku,”
”Segeli apa?,” aku tak pernah tahu. Seperih nafas keringat yang keluar melalui pori-pori? Kemudian menggerus kulit alas sepatu. Menjadikannya licin saat tertapak tanpa kaus kaki? Hingga sewaktu udara bebas bersentuhan pelan ditengah-tengahnya, harum-haruman khas enzim sesak terkurung lepas saja, begitu saja.
Tidak banyak waktu mendengar celotehnya. Kubiarkan, kuputuskan, kucari seandainya ini hakekat mengasihi.
Di hari yang sama mampu kukatakan iya dan tidak.
Duniamu yang indah, kau bungkus merah dan hitam. Kucari-cari dalam buku dan fakta, tidak terjawab kecuali angka.

Dan di sana pertama kali aku merasakan. Angin yang tidak ingin bersua, menggelagar lalu lalang. Kuciptakan sayembara untukmu, hei kamu. Pandangilah lekuk bibirnya. Terlalu tipis untuk menjadi istri. Berkerut-kerut tidak mulus disitulah letak omelan bermula. Gelap..gelap warnanya. Entah berapa ratus batang rokok mensodominya dengan rela. Dibakar jika ragu, dihisap jika gugup.
”Ahhh..itu kan hanya kata dia” jelasmu. Kau saja yang tidak bisa menemaniku saat ini. Kudengar lubang paru-parumu akan semakin membesar. Sejalan lurus dengan masuknya uang.
Tidak kulihat, warna petang hanya liur pelan-pelan menetes dibantu kuasan lidah berkali-kali. Asamkah? Maniskah? Pahitkah? Aku tidak suka tembakau, walaupun nikotin terdengar nikmat. Terlalu banyak tabu jika kuberanikan merasakannya. Sudahlah peperangan tiada habis jika kuharus sekali lagi …..sekali lagi….
Kubilang mending kau kabur angin.
Hentikan kebejatan-kebejatanmu, agitasi tak beguna, provokasi tak bernyawa.
Kulumat pelan pertamanya. Bulu matanya runtuh perlahan menduduki ujung hidungku, kulihat perempuan, matanya terpejam.
Berusaha kuperintah tanganku untuk tidak mendekat…pergi kau jauh-jauh…
Tidak tidak bisa begitu
Sarafku berdenyut, sumsum tulang belakang menyahut, mengetuk-ngetuk. Angin, cukup-cukup, aroma sabun ini menggila. Berhenti! bisa aku muntahkan empedu….

Ah manis….
Menghisap dan mencinta. Mencandu dan merindu. Kau tawarkan radang, kupetikan terang. Tidak dalam rumahku, tidak dalam kamarmu. Berputar aku bersenang rayakan saat kertas tebakar hawa. Hawa yang sama dengan Adam.

Dan disana pertama kali kudengar. Rintihan lirih jemari sedih. Menjalin tangis-tangis tertawa. Sepeda kumbang milik ayahnya sudah usang. Dibawa tetap berlabuh. Satu raihan ke raihan yang lain.
Kadang kakinya pegal, dia duduk tersengal. Masih jauh juga jalannya. Rahangnya tidak akan berubah, bukan keras namun tegas. Matanya tetap berkelana bukan nakal namun cepat.
”Aku berusaha, lebih dalam di sini,” enyahkan kata capai.
”Hitung saja sedotan-sedotan tinta yang mengisi ragamu. Nanti kubuatkan alat sablon,”
Ucap mereka di sebelah sana.
”Berapa banyak yang dapat kau bikin?”
”Cukup berlimpah hingga kau lupa ruas kemewahan,”
Dia tertunduk, tidak begitu saja menjawab. Kutahu akan kemurnian jiwanya.
Naif memang, namun, bukankah dia, bukan wanita berparfum.
Berbaju tertutup maupun terbuka. Gambaran dari kerterbiasaan diluar kebiasaan.
Aku tak setuju untuk tetap termangu. Mau saja kulepaskan dia bersama carik morat marit kain bajunya.
Dan mencabik-cabiknya seperti serigala. Menerkam eghhh…Kalau saja Rahwana tidak begitu teledor. Aku yakin Shinta akan mematung, merelakan hidungnya tercocok seperti hamba.
Buang saja kesucian-kesucian penanda kemunafikan telah datang. Tidak perlu dia bersumpah di depan Rama. Ah Shinta, ah wanita.

Ah Manis
Kulirik kau dari sana, kudoakan kau sambil menyembah. Apakah itu aliran darah dan rumus fisika. Kutarik rumus pembuat mimpi, kutakutkan itu banyak arti. Jika kulupa, pasti kau nanti, sembari mati.

Dan di sana pertama kali….
Dia membalasku berkata. Tetap gemulai bagai awalnya. Peri-peri liar mencari taman. Berjoget simfoni haleluya. Dengan gugup batang-batang rokok terhisap. Dadanya naik turun.
Aku tahu dia begitu. Dia tidak perlu tahu aku begini. Aku ingin tahu harkat mengasihi, kukatakan ini sebelumnya.
Aku jadi meminta untuk mencintai. Belum secara vulgar, kulepaskan semuanya.
Aku bisa merasakan jantung, yang konon terdiri dari empat bilik.
Dalam terpejam tercipta spektrum, awal segala warna.
Angkanya diam, capai menurunkan.
Aku tahu tidak seharusnya ini berhambur. Biar utuh menjadi aneh, anekdot.
Angin kejam itu tidak datang lagi, berganti hujan bertitik-titik. Bulirnya terlalu dekat dimata. Hingga satu persatu tampak memang bening. Transparan hingga denyut nadi. Perjalanan pulang dari arus balik setelah memompa.


Dimanakah datangnya dia?
Di hari yang sama mampu kukatakan iya dan tidak.
Duniamu yang indah, kau bungkus merah dan hitam. Kucari-cari dalam buku dan fakta, tidak terjawab kecuali rasa.
Bebat semua!
Sampai mati urat-urat tak berbekas…
Kupaksa hambur sengaja lama
Itu pelan
Aku hilang
Aku telan

Jika dadamu tercoreng merah…memang cantik jika kau bungkus dengan hitam. Kuberikan kelam….tempat aku enyah….

Ah manis… sedikit khawatir dengan engahan nafas dan lenguh kenikmatan, aneh!

Jumat, 05 Juni 2009

Domine Eduard Oslo, dan Sore

Saya sering berpikir untuk mengkoleksi sore. Satu sore ke sore yang lain, dengan satu rasa dengan rasa yang lain. Apalagi semenjak sering terkungkung dalam gedung bertingkat (Meskipun secara logika semakin tinggi letak kantor saya maka semakin dekat dengan sore) tembok-tembok beton berhiaskan kaca menahan sore masuk dalam ingatan saya. Dan sore menjadi mahal.

Saya lebih suka sore dibandingkan pagi. Pagi tercipta untuk terlalu optimis warnanya menjelang terang artinya akan banyak permulaan. Sore terbuat dari berpuluh-puluh ketergesaan, keringat, makian, amarah lama-lama menghitam artinya istirahatlah barang sejenak.

Hari ini saya sedang menikmati Sore, tepat di sebelah jendela. Awannya bergulung-gulung dan kemudian jika saya mengalihkan pandangan dia beranjak. Warna langit menjelang sore warnanya biru bersih.

Bandara Domine Eduard Oslo, penduduk setempat menyebutnya DEO, tempat saya duduk saat ini. Bandara ini terletak di Sorong sebuah kabupaten di Papua Barat yang cukup berkembang. Udaranya sangat kering dan anehnya bisa timbul hujan rintik di tengah terik matahari.

Hingga empat tahun yang lalu saat Sorong belum berubah menjadi kabupaten. Bandara aktif adalah bandara Jefman yang terletak di Pulau Jefman pulau kecil sebelah barat Sorong. Untuk mencapai kota Sorong penumpang harus menaiki boat selama kurang lebih 20 menit. Namun jika memilih untuk menggunakan feri maka lebih lama lagi yaitu 30 menit. Dan paling seru jika berani memanfaatkan perahu biasa, selama satu jam terombang-ambing di lautan pacific. Bandara ini dibangun pada masa kolonial Belanda, panjang Bandara 1850 m dengan klasifikasi bandara kelas dua.

Saat itu jika orang ingin mendarat ke Sorong, selalu di wanti-wanti untuk tidak membawa pakaian terlalu banyak. Melelfon ke pihak penjemput sejak berada di tempat transit sebelumnya. Karena ternyata perahu untuk menuju ke sana tidak juga tentu waktunya.

Dulu bandara DEO hanya mampu menerima pesawat-pesawat kecil saja. Saat ini bandara tersebut sudah tidak dipergunakan lagi. Dengar-dengar hanya menjadi pemukiman penduduk saja.

Meskipun bandara daratan (DEO) sekarang merupakan bandara utama, namun tetap saja menyimpan banyak keunikan. Tidak yang seperti dibayangkan bentuk bandara yang bersih, megah, bandara ini merupakan bandara mungil. Hampir persis dengan perhentian kereta api pedalaman pada film-film tahun 40 an.
Loket-loketnya masih terbuat dari kayu, tanpa sentuhan aircon. Jika ingin melakukan check in tiket untuk ditukar dengan boarding pass, suasananya riuh rendah. Petugas bandara akan memanggil satu persatu.

Belum lagi raut muka penumpang terlihat sangat tegang. Ternyata meskipun telah membeli tiket mereka masih punya kemungkinan tidak terangkut oleh pesawat alias tidak dapat tempat duduk. Maklum saja beberapa maskapai penerbangan disini masih memberlakukan penjualan tiket secara manual.

Sehingga ketika saya datang untuk meliput penerbangan perdana Batavia Air ke Sorong, masih sempat terlihat orang-orang berebutan check in. Dan berdesak-desakan sambil dorong-dorongan.
Kawan saya yang bernama pak Hartoni, berusaha menenangkan mereka dengan berkata, ”Tenang-tenang semua akan kebagian tiket karena kita pakai komputer. System kita yang membuat anda bisa terbang semua,” (anda benar-benar harus melihat mukanya ketika berbicara, sangat lucu)
Dengar-dengar hanya pilot yang memiliki jam terbang tinggi mampu menguasai bandara ini.
Jangan tanyakan masalah penerangan, beberapa maskapai mampu mendarat tanpa landing lamp (saya tidak tahu apakah patut bersorak gembira, tapi dalam hari saya bilang its cool dude!). Namun, maskapai penerbangan yang mendahulukan safety tentu saja tidak akan melakukan hal semacam itu.

Sekeliling bandara masih banyak rumah-rumah penduduk. Pembatas antara bandara dan dunia luar hanya pagar kawat saja, yang mudah dibengkokan. Dekat dengan landasan tampak anak-anak kampung bermain sambil menghitung pesawat serta mengumpulkan sampah.
Dengar-dengar jika sedang melakukan lari pagi, tiba-tiba pesawat bisa lewat diatas kepala seperti adegan di film Pearl Harbour.

Sudah habis sore saya hari ini. Saya masih terkagum-kagum. Cakrawala Sorong bisa membelah langit dengan sempurna bersama semburan merahnya diatas badan-badan pesawat.
Koleksi sore saya yang lain lagi.

Masih ada petualangan lain selain di Bandara. Maaf foto belum saya upload karena koneksi internet yang benar-benar ISTIMEWA.

Tapi saya merindukanmu…seandainya kau di sini tidak akan saya ajak menghitung pesawat (meskipun akan kau nikmati dengan sungguh!). Mungkin secangkir teh dan beberapa keping biskuit diatas genting lebih asyik. Bersama salakan shutter kamera saya tentunya…

Selamat sore WIB.