Sebenarnya sudah lama saya tidak lagi mengalokasikan waktu untuk menulis dan membaca. Membayangkan dua kegiatan tersebut bersama menonton film sebagai kemewahan yang sangat.
Yah semenjak hari itu yang tidak bisa terlupa dan selalu membuat terjaga bersama dentang jam kamar. Menakutkan membayangkan kata mengalir deras, berdominasi bersama perasaan tak karuan. Dan lelah sendiri, ketika tersadar bahwa saya telah terperangkap.Seperti biasa dan berkelanjutan, bulu kuduk menegang hawa dingin berseliweran.
Tapi tetap..selalu kepada semua orang, saya nyatakan dengan “malu” bahwa saya penulis.
Mau apalagi? Hidup sehari-hari juga terbayar dengan menata katakata. Makan, minum, rokok, laki-laki, makeup, anak.
Belakangan, setelah situs-situs pertemanan mengeluarkan hipnotisnya. Saya keranjingan menulis status-status tidak jelas. Kata-kata pendek yang cukup memiliki sihir untuk membuat yang lain berkomentar. Tapi lewat 50 komen berbalas saya capai menanggapi getaran ponsel.
Namun, hari ini di tengah kemacetan Jakarta dan penatnya ruangan ber AC. Tiba-tiba saya ingin memencet keyboard dengan cepat. Membuka-buka kenangan yang ada dalam berbagai situs. Tentu saja password dan usernamenya telah terlupakan.
Mengingat bagaimana saya memprovokasi diaz membuat blog (www.morninghunter.co.cc). Saat itu dia sedang mengajukan surat pengunduran diri dari tempat kerja kami yang lawas. Dan blog tersebut masih eksis
Persahabatan lain juga terbangun dengan seorang kawan, dian ara. Saya memaksanya untuk membuat blog, agar dapat memantau serta belajar menulis dari “sang master”. Blog Dian sudah mati dan sekarang berganti menjadi www.cerebrumdianara.blogspot.com.
Dan banyak lagi blog-blog yang terbidani kemudian berubah menjadi kenangan manis.
Saya dan teman-teman sempat membuat sebuah blog yang lucu. Namun setelah beberapa kali publish hilang begitu saja (www.our-smalltalk.blogspot.com).Cerita-cerita kehidupan memang berseliweran maju dan pergi. Kami sering tetap ada di sini terkadang suka berbagi dengan tekhnologi.
Mobil-mobil dan gedung tempat saya duduk sekarang, sebentar-bentar menabrak jantung. Satu jalur mengisi jalur yang lain dan bunyi klakson tidak beraturan.
Begitu banyak norma dan aturan, pedoman dan sangkaan, tentang baik tentang benar, tentang saya, tentang kita. Isi kepala bersahutan menunggu doktrin, perintah, panggilan dan juga lelap.
Saya bosan jika menamainya rindu di saat-saat seperti ini. Namun apa boleh buat, air mata saya sekelabatan ingin keluar. Saya menahannya dengan kuat dan menuangkannya disini.
Polusi cahaya di Jakarta telah menghapuskan bintang. Hiburan terhebat malam adalah perlawanan manusia terhadap alam. Lampu-lampu terang yang memusnahkan berbagai spesies jalang. Kini tiba saatnya hantu dan kuntilanak berevolusi menjadi gempa dan tsunami.
Tapi saya tahu. Bunyi kertas rokok terbakar bersama alunan keyboard ini akan menyampaikan pada kalian.
Tentang keberadaan saya (tanpa GPS tentunya) dan kerinduan menghantam gelap dengan gelak tawa kalian.
Selamat malam menjelang pagi semuanya. tanpa musik tanpa gitar dan sudah makan :)




